Tahun 1999, saat usiaku baru enam tahun, aku memasuki gerbang SD di Baturaja. Abangku, Bambang, yang kami panggil Sak, sudah duduk di kelas enam. Ada jarak lima tahun yang memisahkan, tetapi takdir ekonomi menggabungkan kami dalam satu rumah di perantauan.
Kami adalah potret dua anak yang dipaksa dewasa oleh tuntutan perut. Umak dan Bak berkebun kopi di Talang Sekapak, pelosok OKU Selatan. Tak ada sekolah di sana.
Jika mereka memilih kami, kebun mati. Jika mereka memilih kebun, kami harus mandiri.
Kami memilih Baturaja, membiarkan jarak dua kabupaten menjadi harga yang harus dibayar untuk bangku sekolah. Kami tinggal di rumah mungil yang baru saja dibeli bak, hasil musim kopi 2 tahun sebelumnya.
Sak adalah episentrum keramaian. Rumah kami, dengan tiga kamar tidurnya, tak ubahnya menara komunal. Tak pernah sepi. Ia punya magnet sosial yang menarik setiap jenis kawan, dari genk SD yang badung hingga kawan SMA yang riuh.
Rumah kami, bebas dari tatapan pengawas orang tua, menjadi kanvas kebebasan: tempat gitaran, karaoke, dan asap rokok. Aku, si adik lima tahun lebih muda, hanya bisa mencemburui keluasan sirkelnya, sebuah kecemburuan yang kuharap menjadi warisan.
Bahkan saat liburan, ia menjadi "pelabuhan" bagi kawan-kawan dusunnya yang bersekolah di Palembang. Mereka bermalam, membawa stok oleh-oleh dan daftar list perjalanan mengisi libur panjang caturwulan.
Hebatnya, di balik segala kenakalan dan keramaian itu, Sak adalah anomali langka: nakal tapi pintar.
Dua tahun sebelum aku datang, saat ia masih kelas empat SD dan baru pindah, ia sudah menciptakan drama. Ia menantang anak paling badung. Berakhir dengan pengeroyokan masal. Akibatnya, ia mogok sekolah selama dua minggu. Surat teguran datang ke rumah. Orang tua tak tahu apa-apa, mengira ia berangkat terus. Tak tahunya minggat di persimpangan rel kereta api.
Namun, dari insiden itu lahir hikmah: ia malah berteman dekat dengan genk badung itu. Bak rivalitas yang berakhir persaudaraan solid ala Genji dan Serizawa dalam Crows Zero.
Di kelas enam, kenakalannya memuncak. Ia bercanda kebablasan hingga kepala anak perempuan sekelasnya bocor. Umak dan Bak harus dipanggil, datang ke Baturaja untuk "nepung," membawa ayam, beras, telur dan menyatakan kesanggupan bertanggung jawab.
Meski sebandel itu, setiap kelulusan, Sak selalu berada di Top Ten. Tamat SD ia masuk SMP favorit. Lulus SMP ia kembali ke SMA favorit. Puncaknya, ia berhasil masuk Universitas Sriwijaya tanpa tes. Kampus nomor satu di Sumatera Selatan. Entah bagaimana ia belajar, namun ia berhasil membuktikan bahwa ia badung yang tidak lepas kontrol.
Aku sendiri, sebagai si adik, harus cepat beradaptasi. Kami berbagi kamar, tapi tidak berbagi tugas. Karena kemalasan Sak, seluruh pekerjaan domestik jatuh padaku: cuci piring, mencuci pakaian, hingga bersih-bersih rumah. Tentu saja ala kadarnya.
Kekacauan itu terkuak setiap dua minggu sekali. Saat Umak atau Bak datang, membawa aroma kopi dan keprihatinan. Mereka mendapati wajan dan kuali menghitam oleh api kompor minyak. Plafon dapur Langasan. Rendaman pakaian membusuk. Serta rumput yang sudah menjulang setinggi dada di halaman.
Ya, setiap kunjungan adalah audit besar-besaran. Sebuah fakta yang tak bisa disanggah: kami masih anak-anak.
Saat Sak SMA, aku kelas 5 SD, ia dibelikan motor. Pertimbangannya, lebih ekonomis ketimbang mengeluarkan ongkos angkot bolak balik. Sekolahnya jauh.
Tapi ia jarang sekali memberiku tumpangan. Bukan karena pelit, tapi kami sering bangun kesiangan. Sementara arah sekolah berlawanan. Ia juga tidak solutif terhadap masalah-masalah sekolahku, entah itu PR atau kebutuhan kegiatan. Ia terlalu egois dan sibuk dengan dunianya sendiri.
Namun, pengalaman merantau di usia dini juga mengajarkanku siasat hidup. Sak memegang uang mingguan, mengatur pengeluaran, termasuk uang jajanku. Aku belajar menjadi pengadu dan "Intel" yang baik. Jika keinginanku tidak dituruti, aku punya senjata: daftar lengkap kesalahan Sak selama dua minggu terakhir.
Walaupun tak pernah ada dialog terbuka, sejak dini aku terbiasa bersiasat melalui tindakan. Seluruh "dosa" Sak: merokok diam-diam, membawa kawan ramai-ramai, pulang larut malam, semua kusebutkan saat orang tua menjenguk.
Tak perlu kata-kata, cukup tindakan. Dan Abangku pun kena marah. Begitulah caraku mengimbangi kekuasaan minorku.
Kami menjalani kebersamaan itu, selama enam tahun penuh. Dari 1999 hingga 2005. Saat aku lulus SD, Sak sudah kelas tiga SMA. Momen kelulusan kami menjadi penanda berakhirnya babak Baturaja. Aku melanjutkan ke pesantren di kabupaten lain. Setahun kemudian, Sak menyusul ke bangku kuliah di kota berbeda.
Rumah di Baturaja sepi. Tidak berpenghuni. Setelah kami lulus, harga kopi jatuh, orang tua kami pindah mencari nafkah ke Ogan Ilir, menyadap karet. Baturaja tak lagi relevan. Adik-adik kami menjadikan Palembang sebagai tujuan.
Maka, rumah itu dijual. Ia pergi dengan segala kenangan: ruang tamu yang selalu riuh, dapur yang selalu gosong, rumput setinggi dada, dan janji-janji masa depan yang kami tawar dengan kemandirian di usia yang masih terlalu belia.
Kami berdua, sang Badung yang magnetis dan sang malaikat pencatat dosa, masih menyimpan baik rekaman memori rumah itu. Sebuah riwayat tentang anak-anak dusun yang terpaksa berlayar jauh demi satu cita-cita: sekolah.
____
Selamat ulang tahun Brader...

0 komentar:
Post a Comment