"Membaca adalah cara paling murah untuk melipat jarak." Kalimat itu langsung menghantam kesadaran ketika kembali menghadiri Kenduri Cinta..
Terakhir kali rutin duduk di forum ini, ketika masih jadi mahasiswa. Duduk lesehan hingga dini hari, mendengarkan orang-orang berbicara tentang bangsa, agama, sastra, ekonomi, bahkan hal-hal sederhana yang ternyata menyimpan makna besar.
Lalu hidup berjalan semakin cepat.
Pekerjaan datang silih berganti. Tahun 2021 aku pindah ke Jakarta. Ironisnya, justru setelah tinggal di kota yang sama, malah jarang datang. Lima tahun berlalu begitu saja. Baru 2026, akhirnya kembali ikut lagi.
Malam itu, aku datang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti pulang ke rumah yang sudah lama tidak dikunjungi. Lokasinya tak lagi sama. Wajah-wajah baru memenuhi arena. Datang dengan berbagai latar belakang, mahasiswa, pekerja, santri, seniman, aktivis, hingga mereka yang sekadar membawa kegelisahan dan ingin pulang dengan jawaban.
Di tengah keramaian itu, beberapa wajah terasa akrab. Ada kawan lama yang kutemui tanpa sengaja. Kami hanya saling menatap beberapa detik sebelum akhirnya tertawa. Rupanya waktu belum cukup kuat menghapus ingatan. Ada pula beberapa kawan yang sejak awal memang sudah berjanji untuk hadir bersama.
Namun ada satu sosok yang malam itu, sangat terasa justru karena ketidakhadirannya. Cak Nun.
Sudah lama beliau tidak lagi memimpin Kenduri Cinta. Kondisi kesehatannya menurun. Ruang itu kehilangan suara yang selama puluhan tahun menjadi penuntun diskusi. Meski demikian, ruh Kenduri Cinta tidak ikut menghilang. Estafet itu diteruskan oleh putranya, Sabrang.
Forum berjalan lebih ringkas.
Beberapa kali moderator memainkan kode agar diskusi tidak terlalu panjang. Rupanya ada suasana lain yang ikut mengiringi. Tepat pukul dua dini hari, jutaan pasang mata di berbagai belahan dunia sedang menunggu laga besar Piala Dunia. Spanyol vs Belgia.
Barangkali karena itulah tema malam tersebut terasa begitu pas. Melipat Jarak.
Ada banyak lipatan jarak yang terasa. Jarak waktu, kembali ke forum yang dulu menemani semasa kuliah.
Jarak generasi, ketika mereka yang mengalami 1965, 1998, dan mereka yang lahir setelah tahun 2000, duduk dalam satu forum yang sama.
Jarak pengetahuan, ketika pengalaman hidup puluhan tahun seseorang dapat dipinjam hanya dengan beberapa jam mendengarkan. Dan yang paling penting, jarak antara Indonesia yang kita hidupi hari ini dengan Indonesia yang sama-sama kita cita-citakan.
Salah seorang pembicara membuka diskusi dengan sebuah analogi yang sangat sederhana. Tentang bercocok tanam.
"Yang kita tanam hari ini, belum tentu kita sendiri yang memanennya." Kalimat itu membuat forum mendadak sunyi.
Ya, tidak semua perjuangan selesai pada generasi yang memulainya. Ada benih yang sengaja ditanam untuk dipanen oleh generasi mendatang.
Dalam bercocok tanam, tidak ada hasil yang lahir dari tergesa-gesa. Semua membutuhkan kesabaran. Tetapi sabar bukan berarti diam. Sabar adalah tetap menyiram meski tunas belum muncul. Tetap membersihkan gulma meski panen masih terasa jauh. Tetap percaya bahwa akar sedang bekerja, meskipun mata belum mampu melihatnya.
Analogi itu perlahan membawa diskusi pada Indonesia. Menjadi warga negara Indonesia, mungkin memang salah satu cara Tuhan mengajarkan kesabaran.
Kita berkali-kali melewati momentum yang dianggap sebagai awal baru. Tahun 1945. Tahun 1965. Tahun 1998. Masing-masing disebut sebagai titik balik sejarah. Masing-masing dipercaya sebagai kesempatan untuk memulai kembali.
Namun, setelah puluhan tahun berlalu, pertanyaan itu tetap menggantung. Apakah kita benar-benar pernah melakukan reset?
Tahun 1945 melahirkan sebuah negara. Tahun 1965 mengubah arah politik nasional. Tahun 1998 menjatuhkan rezim yang telah berkuasa lebih dari tiga dekade. Ketiganya sering disebut sebagai titik balik sejarah Indonesia.
Namun, setelah setiap momentum besar itu berlalu, kita selalu kembali dihadapkan pada persoalan yang nyaris serupa. Korupsi tetap ada. Penyalahgunaan kekuasaan berganti wajah. Ketimpangan masih terasa. Kepercayaan publik terhadap hukum naik turun mengikuti arah angin politik.
Lalu muncul pertanyaan lain yang lebih mengganggu. Kalau suatu hari Indonesia diberi kesempatan untuk direset sekali lagi, apa sebenarnya yang harus direset?
Apakah cukup mengganti presiden? Mengganti menteri? Mengganti seluruh rezim? Kalaupun semua itu dilakukan, siapa yang bisa menjamin bahwa mereka yang datang sesudahnya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama? Bukankah setiap rezim, pada awalnya, selalu datang membawa janji perubahan?
Mungkin yang paling membutuhkan reset bukan negara. Melainkan manusia-manusia yang mengisinya.
Kita terlalu sering membayangkan perubahan datang dari atas. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa perubahan besar selalu diawali oleh perubahan cara berpikir masyarakatnya. Negara hanyalah cermin. Ia memantulkan wajah orang-orang yang hidup di dalamnya.
Pembicaraan kemudian bergerak ke soal hukum. Seseorang mengingatkan bahwa jangan terlalu cepat bersorak ketika ada pejabat ditangkap atau lawan politik diproses secara hukum.
Sebab pertanyaan yang lebih penting bukanlah siapa yang ditangkap. Melainkan mengapa ia ditangkap. Kalau penegakan hukum dilakukan semata-mata karena dendam politik, maka itu bukan kemenangan demokrasi. Bukan pula reformasi birokrasi.
Hukum seharusnya tidak mengenal kawan ataupun lawan. *Konteks perang kejaksaan dan kepolisian
Ketika hukum dipakai sebagai alat balas dendam, yang hancur bukan hanya lawan politik, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap negara. Hari ini kita terlalu sering dipertontonkan kenyataan yang bertentangan dengan rasa keadilan rakyat. Seolah-olah keadilan memiliki standar yang berbeda, tergantung siapa yang sedang berdiri di hadapan hukum.
Diskusi kemudian berbelok pada sesuatu yang tidak kalah menarik. Tentang bagaimana keburukan diwariskan.
Dalam Islam dikenal hadis bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara. Salah satunya adalah anak saleh yang terus mendoakan orang tuanya.
Malam itu ada yang mengajak melihatnya dari sudut yang lain. Kalau kebaikan bisa diwariskan, bukankah keburukan juga demikian?
Korupsi tidak lahir tiba-tiba. Penyalahgunaan kekuasaan juga tidak muncul dalam semalam. Semuanya dimulai dari pelanggaran-pelanggaran kecil yang terus dimaklumi. Dari rasa sungkan, lalu menjadi kebiasaan. Dari malu-malu, kemudian jadi tidak tahu malu. Tidak mungkin kerusakan sebesar hari ini muncul begitu saja.
Ia dibangun sedikit demi sedikit oleh kesalahan-kesalahan kecil yang dibiarkan menjadi budaya. Ya, peradaban tidak runtuh karena satu ledakan besar. Ia roboh karena retakan-retakan kecil yang terlalu lama diabaikan.
Di tengah diskusi, salah seorang pembicara mengutip sebuah buku yang judulnya langsung mengundang rasa penasaran. Senjata untuk Orang-Orang Lemah.
Isinya sederhana. Senjata orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan bukanlah senjata api. Bukan pula uang. Melainkan kemampuan untuk berkumpul. Berserikat. Berdialog. Membangun kepercayaan.
Kekuatan masyarakat sipil selalu lahir dari pertemuan-pertemuan seperti ini. Dari orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal, lalu dipersatukan oleh kegelisahan yang sama.
Malam semakin larut.
Saat rasa kantuk mulai datang, pembahasan berubah menjadi semakin menarik. Tentang narasi. Tentang cerita. Tentang siapa yang menguasai makna.
Salah seorang pembicara berkata pelan, "Kalau mau meracuni sebuah bangsa, rusaki dulu ceritanya." Kalimat itu menancap cukup dalam.
Perebutan kekuasaan tidak hanya berlangsung di ruang parlemen, ruang sidang, atau medan perang. Ia juga berlangsung di kepala manusia. Melalui cerita. Melalui percakapan. Melalui makna.
Apa yang terus-menerus kita dengar, perlahan menjadi cara kita memandang dunia. Informasi masuk melalui pancaindra. Lalu diberi makna. Makna berubah menjadi pikiran. Pikiran menjadi keyakinan. Keyakinan berubah menjadi pola pikir. Dan akhirnya pola pikir melahirkan tindakan.
Aku membatin, mungkin itulah sebabnya perebutan narasi hari ini begitu sengit. Siapa yang menguasai cerita, ia bisa mengendalikan sebuah bangsa.
Maka, membaca bukan lagi sekadar menambah pengetahuan. Membaca adalah cara melipat jarak.
Pengalaman hidup seseorang selama puluhan tahun dapat kita pinjam hanya dalam beberapa hari. Kegagalan, keberhasilan, keraguan, hingga kebijaksanaan yang diperoleh penulis melalui perjalanan panjang, semuanya dituangkan ke dalam buku. Kita tinggal membuka halaman demi halaman.
Mumpung masih diberi waktu. Mumpung belum memikul amanah yang lebih besar. Belajarlah sebanyak mungkin. Sebab ketika kesempatan datang, sudah terlambat jika baru mulai membaca.
Menjelang akhir forum, pembicaraan diarahkan pada sebuah tanggal yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. 28 Oktober 2028. Seratus tahun Sumpah Pemuda.
Seratus tahun yang lalu, para pemuda berkumpul bukan untuk merebut kekuasaan. Mereka sedang menyusun cerita tentang sebuah bangsa yang bahkan belum benar-benar ada. Mereka mendahului zamannya. Mereka membangun imajinasi kolektif tentang Indonesia sebelum Indonesia resmi berdiri.
Sumpah Pemuda adalah kemenangan atas sekat-sekat identitas. Bahasa dipersatukan. Tanah air dipersatukan. Bangsa dipersatukan. Lalu, seratus tahun kemudian, apa yang perlu kita persatukan?
Kalau pada 1928 tantangannya adalah menyatukan anak-anak bangsa yang tercerai-berai oleh kolonialisme, mungkin tantangan hari ini adalah menyatukan kembali kepercayaan yang mulai terkikis, menyambung harapan yang perlahan retak, serta membangun optimisme di tengah derasnya apatisme.
Salah satu sesi yang paling menarik justru datang menjelang forum berakhir. Peserta diberi tantangan sederhana.
"Pulang dari sini, buat proposal dengan judul: 500 miliar mau diapakan."
Sekilas terdengar seperti permainan. Namun semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa pertanyaan itu sedang menguji sesuatu yang jauh lebih mendasar. Bukan kemampuan menghitung anggaran. Melainkan kemampuan membayangkan masa depan. Apa yang akan diprioritaskan?Pendidikan? Kesehatan? Pangan? Lingkungan? Teknologi? Pemberdayaan desa? Atau justru pembangunan manusianya?
Sering kali kita sibuk mengkritik mereka yang sedang memegang kekuasaan. Tetapi ketika diberi kesempatan membayangkan diri berada di posisi yang sama, kita justru kebingungan. Mungkin karena selama ini kita lebih banyak melatih kritik daripada melatih imajinasi. Padahal kepemimpinan juga membutuhkan simulasi. Harus dilatih jauh sebelum dijalankan.
Jangan sampai ketika giliran itu datang, kita justru gagap karena tidak pernah membayangkannya.
Aku teringat sebuah kalimat Cak Nun. "Memungut yang dicampakkan orang." Kalimat itu sederhana. Namun terasa berat maknanya.
Di dunia ini ada begitu banyak pekerjaan yang tidak menarik perhatian. Pekerjaan yang tidak menghadirkan tepuk tangan. Pekerjaan yang bahkan sering dianggap remeh. Tetapi justru di sanalah kemaslahatan sering bersembunyi.
Ada banyak hal yang kita lakukan bukan karena ingin, melainkan karena harus. Seperti membersihkan kotoran ketika cebok. Tidak ada orang yang bercita-cita melakukan itu. Tetapi semua orang paham bahwa itu bagian dari tanggung jawab.
Mungkin begitulah seharusnya kita memandang pengabdian kepada bangsa, apapun bidangnya. Kadang tidak selalu menyenangkan. Tidak selalu populer. Tetapi harus ada yang mengerjakan.
Forum selesai lebih cepat dari biasanya. Sebagian peserta langsung beranjak. Mungkin ingin mengejar siaran langsung pertandingan Piala Dunia. Sebagian lagi masih bertahan untuk ngobrol.
Tema malam itu, "Melipat Jarak" terus tergiang-ngiang dalam pikiran. Aku berjalan menuju parkiran sambil membawa satu pertanyaan. Sebelum bertanya apakah Indonesia perlu direset, sudahkah aku mereset diriku sendiri?
Mahfudzot belasan tahun silam saat di pesantren kembali mengingatkan, "Ibda' Binafsik..."