Wednesday, 22 July 2026

Jakarta, Tesis & Restu Umak

 


Ada keputusan-keputusan besar yang lahir bukan dari ruang rapat atau meja kerja. Kadang ia lahir dari meja makan di sebuah dusun saat mudik lebaran.

Dua tahun lalu, percakapan itu mengalir tanpa rencana. Sak, seperti tabiatnya yang tak pernah berubah, mengambil peran sebagai provokator.

Ia melempar gagasan yang mula-mula terdengar ringan. Delis sebaiknya melanjutkan studi pascasarjana di Jakarta. Sekalian menemani Yusro, adik perempuan paling kecil, yang baru diterima kuliah di kota yang sama.

Obrolan itu mengalir saja. Sampai akhirnya arah pembicaraan berbelok padaku.

"Bulanan kamuk, aman. Kele cik Jun ngijekenye."

Aku terdiam. Lalu mengangguk pelan pelan. Bukan karena mampu, tapi ada satu pemahaman yang kujadikan standar hidup. Kuceritakan lain waktu.

Ada satu syarat yang kuberikan.

"Ngan harus mengusahakan diwik biaye pendaftaran awal dan ongkos keberangkatan," cetusku. Bukan bermaksud mengelak, aku hanya tak ingin ia mendapat sesuatu terlalu mudah.

Ia menyanggupi tanpa banyak bicara.

Kebetulan, Sak yang sejak awal paling bersemangat mendorongnya kuliah adalah Koordinator LSI Sumbagsel. Dari situlah Delis beberapa kali diajak menjadi surveyor, spotchecker dan asisten penetliti. Honornya memang tak seberapa, tapi dari pekerjaan itu ia bisa punya sedikit tabungan.

Dari hasil survei itu ia membayar biaya pendaftaran, membeli tiket bus menuju Jakarta, dan membeli sebuah laptop. Bukan laptop yang mahal. Hanya perangkat yang cukup untuk membaca jurnal, mengetik makalah, dan suatu hari nanti menyusun tesis. Bagi sebagian orang, itu sekadar barang elektronik. Bagi Delis, itulah modal penting untuk menapaki lagi dunia akademik.

Di Jakarta, mereka menyewa sebuah kamar kecil di belakang kampus. Ukurannya tak seberapa. Dua meter persegi. Cukup untuk dua kasur tipis dan beberapa buku. Tempat itu dipilih bukan karena nyaman, tetapi karena murah.

Sejak awal aku sudah berkata terus terang.

Yang bisa kubantu hanyalah biaya kos dan makan. Itu pun sekadarnya. Selebihnya, mereka harus mencari jalan sendiri.

Dalam keadaan seperti itu, berhemat bukan lagi pilihan. Sebab yang dihemat memang sudah nyaris tak ada.

Delis melakukan apa saja yang bisa dikerjakan. Menjadi pembawa acara. Jadi notulen. Bahkan joki tugas kampus. Apa pun yang halal, selagi bisa kuliah. Bukan karena ingin, tapi keadaan tidak menyediakan banyak pilihan.

Untungnya, Jakarta juga mempertemukannya dengan orang-orang baik. Untuk urusan mobilitas, seorang kawan meminjaminya sepeda motor karena kebetulan punya dua. Ya, Tuhan kadang bekerja melalui cara-cara yang sederhana.

Perjalanan akademiknya memang tak pernah lurus.

Sarjana ia selesaikan dalam tujuh tahun. Nilainya bagus untuk ukuran mahasiswa yang hampir di-DO. Tapi karena berselisih paham dengan satu dosen, ia nyaris jadi donatur kampus tanpa gelar. Aktivisme sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sejak SMP ia menjadi Ketua OSIS. Di SMA begitu juga. Bahkan ikut terlibat aktif di kepengurusan wilayah PII. Sementaraa saat kuliah, ia dipercaya menahkodai Badan Pengelola Latihan HMI Palembang, dll.

Selepas wisuda S1 pada 2021, ia sempat bertahan enam bulan di Jakarta mencari pekerjaan. Tak satu pun yang kecantol. Entah karena nasib, atau karena jurusan Manajemen Pendidikan Islam yang memang tak punya peluang di pasar kerja.

Karena itu, ketika kesempatan melanjutkan S2 datang, ia tak membiarkannya lewat.

Jakarta ternyata masih menjadi rumah bagi jiwa aktivisnya. Kota itu penuh diskusi, seminar, dan ruang-ruang perjumpaan. Beberapa kali ia bercerita tentang perdebatan dengan dosen. Seolah ia menemukan kembali dirinya yang sempat tertinggal selama bekerja di lapangan.

Kami berulang kali mengingatkannya.

"Kali ini, fokus kian kuliah dulu. Nangkelah dik huji ige."

Tak semua perbedaan harus dimenangkan. Tak semua perselisihan harus dipertajam. Kadang mengatur tempo komunikasi lebih penting daripada memenangkan perdebatan. Mundur selangkah untuk melompat lebih jauh.

Tetapi rupanya dua tahun itu bukan sekadar perjalanan menyelesaikan mata kuliah dan tesis.

Ada perjalanan lain yang jauh lebih melelahkan. Yakni, bolak-balik Jakarta dan Palembang.

Tema penelitiannya memang mengharuskannya beberapa kali ke Palembang untuk mengumpulkan data. Namun itu bukan satu-satunya alasan.

Umak mulai sering sakit-sakitan. Setiap kali ada kesempatan pulang, ia selalu berusaha tinggal lebih lama. Penelitian menjadi alasan yang mudah diucapkan. Tapi rindu umak adalah alasan yang sebenarnya.

Puncaknya terjadi menjelang semester tiga. Ia dihadapkan pada pilihan yang mungkin menjadi salah satu keputusan paling berat dalam hidupnya.

Kembali ke Jakarta agar kuliahnya tidak tertinggal. Atau tetap tinggal di Palembang menemani umak yang kondisinya semakin kritis.

Pikirannya terbelah.

Satu sisi ada kuliah yang sudah diperjuangkan dengan begitu banyak pengorbanan. Di sisi lain ada seorang ibu yang perlahan melemah dari hari ke hari.

Pada akhirnya justru umak yang menguatkan. Delis pun berangkat.

Namun firasat yang selama ini ia pendam ternyata benar. Beberapa minggu setelah sampai ke Jakarta, September tahun lalu, kabar itu datang.

Umak berpulang.

Barangkali sejak hari itu, setiap lembar tesis yang ia tulis bukan lagi semata-mata untuk mengejar gelar magister. Di setiap halaman ada doa yang pernah dipanjatkan seorang ibu. Ada air mata yang tak sempat diperlihatkan kepada siapa pun.

Senin kemarin, perjalanan panjang itu akhirnya sampai di ujungnya. Delis menuntaskan sidang tesisnya. Resmi menggenggam gelar magister.

Ya, dibalik sebaris gelar yang kini melekat di belakang namanya, ada meja makan di dusun yang melahirkan keputusan. Ada Sak yang membuka jalan lewat pekerjaan survei. Ada laptop yang dibeli dari keringat bekerja di lapangan. Ada kamar kos sempit yang menyimpan mimpi. Ada pekerjaan sambilan yang menjaga kuliah tetap berjalan. Ada kawan yang meminjamkan motor. Ada keluarga yang menghitung rupiah sambil menyembunyikan kecemasan.

Dan yang paling dalam, sosok umak yang bahkan di hari hari terakhir hidupnya masih memilih merelakan anaknya pergi agar masa depannya tidak ikut berhenti. Alfaatihah...


0 komentar:

Post a Comment